Pages

SWISS ARMY

JAM TANGAN SPORT RUBBER

FOLLIE FOLLIE

JAM TANGAN FASHION

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Saat teduh. Show all posts
Showing posts with label Saat teduh. Show all posts

Monday, April 1, 2013

MAKAN SEPUASNYA

Bacaan: Wahyu 4:1-11 NATS: "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan" (Wahyu 4:11) Sepasang suami-istri menjalani hidup sehat, antara lain dengan melakukan diet ketat, nyaris vegetarian. Alkisah, mereka mencapai umur panjang dan meninggal bersama-sama dalam usia lanjut. Di surga, mereka diundang ke perjamuan yang mewah. Aneka hidangan, yang dulu tak berani mereka sentuh saat masih di bumi, tersaji secara berlimpah. Ternyata di surga mereka tak perlu berpantang makan. Mendengar penjelasan itu, sang suami mengamuk pada istrinya, "Kalau kau tidak memaksaku makan sereal hambar itu, mungkin dua puluh tahun lalu aku sudah sampai di sini, tahu nggak?" Pernah membayangkan surga seperti cerita di atas? Kita membayangkan surga sebagai tempat untuk melampiaskan keinginan yang kita kekang selama di bumi. Namun, jika kita berfokus pada keinginan diri, itu berarti kita sedang membayangkan surga yang lain dari yang diulurkan Kristus. Kerajaan Surga disebut juga Kerajaan Allah, bukan Kerajaan "aku". Surga berpusat kepada Allah sebagai Raja, sang pemegang kedaulatan tertinggi (ayat 8-11). Surga bukan tempat pelampiasan kehendak diri, melainkan tempat kehendak Tuhan digenapi. Di surga, kita dapat melakukan sepuasnya bukan apa yang kita ingini, melainkan apa yang semestinya kita lakukan sebagai anak Allah. Dan, justru dengan mematuhi kehendak Allah itulah kita dipuaskan. Hebatnya, hidup dengan cara surgawi bisa kita mulai saat ini. Yakni dengan belajar hidup tidak egois atau sekehendak hati. Sebaliknya, kita belajar untuk selalu mempertimbangkan masakmasak; apakah sikap, ucapan, dan tindakan kita selaras dengan kehendak Allah -ARS KERAJAAN SURGA ADALAH KERAJAAN ALLAH, BUKAN KERAJAAN AKU

SALURAN KASIH ALLAH

Bacaan: Yohanes 13:1-17 NATS: Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu (Yohanes 13:15) Martha, seorang wanita berusia 26 tahun yang menderita ALS [penyakit syaraf fatal yang dengan cepat menyerang sel-sel syaraf yang mengendalikan otot penggerak], memerlukan pertolongan. Saat sekelompok wanita dari Evanston, Illinois, mendengar tentang dia, mereka segera bertindak. Mereka mulai merawatnya siang malam. Mereka memandikan, menyuapinya makan, berdoa, dan bersaksi kepadanya. Martha, yang belum menerima Kristus sebagai Juru Selamatnya dan tidak dapat mengerti mengapa Allah yang penuh kasih mengizinkan dirinya mengidap ALS, melihat kasih Allah dalam diri para wanita ini hingga akhirnya ia menjadi seorang kristiani. Kini ia dapat berada bersama Tuhan berkat enam belas wanita, yang mewujudkan kasih Allah dengan mengikuti teladan Yesus. Kasih Allah tampak nyata dalam pribadi Yesus saat Dia berada di bumi. Ketaatan-Nya saat meninggalkan surga dan menjadi manusia tercermin saat Dia membungkuk untuk membasuh kaki para murid-Nya. Dia menyembuhkan orang sakit, tetapi justru dibalas dengan kebencian yang pahit. Dia mati seperti seorang penjahat di atas salib orang Romawi. Ketabahan dan perbuatan-perbuatan baik-Nya ini mencerminkan kasih Allah, karena Yesus berkata, "Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (Yohanes 14:9). Secara fisik Yesus memang sudah tak lagi bersama kita -- kini Dia duduk di sebelah kanan Allah di surga. Jadi, jika hari ini kasih Allah harus diwujudkan, maka itu harus terjadi melalui orang-orang kristiani. Apakah hal itu sedang terjadi melalui Anda? --HVL Kuingin semakin mengikut teladan-Nya, Makin mencontoh kasih-Nya pada sesama; Makin menyangkal diri, seperti Dia di Galilea, Kuingin semakin menyerupai Dia. --Gabriel KEHIDUPAN SAYA MEMBANTU ORANG LAIN MELIHAT GAMBAR ALLAH

MEMINJAMI TUHAN

Bacaan: Matius 25:34-46 NATS: Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu (Amsal 19:17) Seorang ayah memberikan uang 50 sen kepada putranya yang masih kecil dan berpesan bahwa ia boleh memakai uang itu sesukanya. Di kemudian hari ketika sang ayah menanyakan tentang uang itu, si anak menjawab bahwa ia telah meminjamkannya kepada seseorang. "Siapa yang kaupinjami?" tanya ayahnya. Anaknya menjawab, "Aku memberikannya kepada seorang pria miskin di jalan yang kelihatannya lapar." "Oh, sungguh bodoh! Kamu takkan pernah mendapatkan uang itu kembali," kata ayahnya. "Tetapi, Yah, Alkitab mengatakan bahwa orang yang memberi kepada orang miskin berarti memiutangi Tuhan." Sang ayah sangat senang mendengar jawaban anaknya sehingga ia memberinya 50 sen lagi. "Lihat, Ayah," ujar sang anak. "Tadi sudah kukatakan bahwa aku akan mendapatkan uang itu kembali, hanya saja aku tidak menduga itu terjadi begitu cepat!" Pernahkah Tuhan meminjam sesuatu dari Anda? Pernahkah Anda sadar bahwa dalam kebutuhan orang lain terdapat permintaan langsung dari surga terhadap sedikit dari yang Anda miliki? Alkitab menegur sikap mengabaikan orang miskin, yang sering kita lakukan dengan melontarkan perkataan saleh tanpa berbuat apa-apa untuk mereka (Yakobus 2:14-17). Bahkan Galatia 6:10 meminta kita supaya "berbuat baik kepada semua orang". Tak ada janji bahwa kita akan segera menerima balasan. Namun, saat Yesus mengajar para pengikut-Nya tentang kedatangan-Nya kembali, Dia mengatakan kita akan diberi upah karena memberi diri kepada orang lain dalam nama-Nya (Matius 25:34-46) --HGB ANDA DAPAT MEMBERI TANPA MENGASIHI NAMUN ANDA TIDAK DAPAT MENGASIHI TANPA MEMBERI

Sunday, March 31, 2013

SIAPAKAH AKU?

Bacaan: Mazmur 8:4-10 NATS: Apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya? ... sehingga Engkau mengindahkannya? (Mazmur 8:5) Seorang biolog dari Hongkong pernah meneliti tubuh manusia dan mengatakan bahwa dalam diri seorang manusia terdapat berbagai unsur bahan kimia seperti lemak, zat besi, fosfor, kapur, air, dengan jumlah yang nilainya dalam rupiah kira-kira sebesar data berikut: o Lemak, yang hanya dapat dibuat sebatang lilin = Rp500,00 o Zat besi, yang hanya dapat dibuat 1 ons paku = Rp300,00 o Fosfor, yang hanya dapat dibuat sekotak korek api = Rp500,00 o Kapur, yang hanya untuk melabur sebuah kandang anjing = Rp1.000,00 o Air, yang dapat diperoleh secara gratis = Rp0,00 Jika perhitungan ini benar, maka nilai seorang manusia hanya sekitar Rp2.300,00. Wah, betapa murahnya! Apalagi jika mengingat fakta bahwa manusia diciptakan dari debu tanah, maka semakin dihitung sebenarnya kita -- manusia ini -- makin tidak ada harganya. Berdasarkan kebenaran tersebut, maka kita pasti akan terheran-heran saat melihat betapa indahnya karya dan berkat-berkat Allah bagi kita. Dan seperti raja Daud, kita juga akan bertanya hal yang sama kepada-Nya: "Tuhan, siapakah kami manusia ini sehingga Engkau membuat kami segambar dengan-Mu -- memberi kami napas hidup, memerhatikan, bahkan mengindahkan kami?" (ayat 5,6). Biarlah kita yang tidak berharga, tetapi telah dibuat Tuhan menjadi sangat berharga, makin memuliakan Tuhan saja dari hari ke hari. Tidak lupa diri, tidak banyak menuntut Tuhan, sebaliknya lebih banyak bersyukur. Jikalau bukan Tuhan, kita ini tidak ada apa-apanya dan bukanlah siapa-siapa -MNT DIKASIHI TUHAN, ITU SUDAH BERKAT YANG LUAR BIASA

BUKU YANG TERLUPAKAN

Bacaan: Mazmur 119:89-104 NATS: Untuk selama-lamanya aku tidak melupakan titah-titah-Mu, sebab dengan itu Engkau menghidupkan aku (Mazmur 119:93) Suatu kali seorang anak kecil memerhatikan sebuah buku besar berwarna hitam. Buku itu berselimut debu dan ditaruh di sebuah rak yang tinggi. Kemudian dengan penuh rasa ingin tahu ia bertanya kepada ibunya tentang buku itu. Dengan malu sang ibu segera menjelaskan, "Itu Alkitab. Bukunya Allah." Anak itu berpikir sesaat, lalu berkata, "Kalau itu bukunya Allah, mengapa kita tidak mengembalikannya saja kepada Allah? Kan tidak ada lagi seorang pun di sini yang membacanya." Dalam banyak keluarga, Alkitab nyaris tidak pernah dibaca atau bahkan dipedulikan keberadaannya. Orang membacanya hanya tatkala muncul masalah, penyakit, atau kematian di tengah keluarga. Bahkan pada saat seperti itu pun seseorang bisa jadi masih kebingungan ke mana harus mencari bantuan yang dibutuhkan. Kapan terakhir kali Anda mengambil Alkitab dan mempelajarinya untuk mendapatkan sukacita, menerima teguran rohani, dan mengalami pertumbuhan rohani? Memang Alkitab adalah bukunya Allah, tetapi Dia tidak ingin buku itu dikembalikan kepada-Nya. Dia ingin agar Anda memiliki, merenungkan, memahami, memercayai, dan menaati pesan yang ada di dalamnya. Itulah alasan utama mengapa buklet Renungan Harian ini diterbitkan. Setiap artikel renungan di dalamnya bertujuan untuk membantu Anda memahami firman Allah. Sudahkah Anda membaca bacaan Kitab Suci hari ini? Jika belum, mengapa Anda tidak membacanya sekarang juga? Jangan biarkan Alkitab menjadi Buku yang terlupakan di dalam rumah Anda --RWD SEMAKIN RAJIN ANDA MEMBACA ALKITAB SEMAKIN BESAR RASA CINTA ANDA KEPADA "PENULIS"NYA

MENGHITUNG RAHMAT

Bacaan: Ratapan 3:17-25 NATS: Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:21-23) "Rumput di halaman rumah tetangga selalu terlihat lebih hijau." Pepatah ini hendak menggambarkan kecenderungan orang untuk melihat apa yang tidak dimiliki dalam hidupnya. Ada orang yang beranggapan bahwa hidup orang lain lebih menyenangkan. Akibatnya, orang itu tidak dapat bersyukur dengan hidupnya sendiri. Sikap demikian sebenarnya justru memicu ketidakbahagiaan. Dalam bukunya, "Petunjuk Hidup Tenteram dan Bahagia", Dale Carnegie mengatakan, "Kecenderungan untuk jarang melihat apa yang kita miliki, tetapi selalu ingat pada apa yang tidak kita punyai, merupakan tragedi terbesar di dunia ini. Bisa jadi hal ini telah lebih banyak menimbulkan kemalangan dibandingkan dengan yang ditimbulkan oleh semua perang dan penyakit dalam sejarah." Yeremia, penulis Kitab Ratapan, menunjukkan teladan yang indah. Berbagai kejadian buruk menimpa hidupnya, sampai-sampai ia sempat berpikir, "Sangkaku: hilang lenyaplah kemasyhuranku dan harapanku kepada Tuhan" (ayat 18). Namun, ia tidak membiarkan diri terjebak dalam kondisi itu. Sebaliknya, ia memusatkan perhatian pada rahmat dan kesetiaan Tuhan, "Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan ... Tak berkesudahan kasih setia Tuhan... selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (ayat 21-23). Hidup memiliki begitu banyak hal yang dapat kita syukuri; udara yang kita hirup dengan nyaman, tawa dan tangisan anak-anak kita, makanan dan minuman yang bisa kita nikmati, dan sebagainya. Mari kita perhatikan hal-hal ini. Mari pusatkan perhatian kepada kesetiaan Allah yang tak pernah habis, dan mari kita bersyukur! -AYA SELAMA KITA HIDUP SELALU ADA ALASAN UNTUK BERSYUKUR

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...